Parijs van Java, Macetnya Tetap Dirindukan

Gedung Sate, ikon Kota Bandung (Foto: travelwithjan)
Gedung Sate, ikon Kota Bandung (Foto: travelwithjan)
JAKARTA - Seperti julukannya sejak dulu sebagai Parijs van Java, Kota Bandung menjadi destinasi wisata yang selalu membuat pelancong ingin terus datang. Pemandangan alam, tujuan kuliner, dan tempat belanja adalah sederet atraksi andalannya, belum lagi jarak yang dekat dari Jakarta.

Menurut poling independen lewat telepon yang dihelat MNC Media Research, kemacetan dan sampah menjadi masalah utama Kota Bandung, sebagai imbasnya sebagai destinasi wisata. Poling sepanjang 10-12 Januari 2013 terhadap 307 responden usia 17-45 tahun ke atas menempatkan kemacetan pada urutan teratas (34,5 persen) disusul sampah (31,3 persen), banjir (13,7 persen), infrastruktur jalan (12,1 persen), dan ekonomi (2 persen) sebagai masalah Kota Bandung.

Sampah Kota Pariwisata dan Belanja ini semakin berat disandang Bandung mengingat kepadatan lalu lintas para pelaku bisnis dan pengguna jasa dalam kota maupun antar kota. Infrastruktur jalan yang ada seperti tak sanggup lagi mengatasi. Meski demikian, berdasarkan poling tersebut, 34,2 persen warga Kota Bandung masih merasa bangga menjadi warga Kota Pariwisata.

Kota Bandung, meski dicengkeram macet dan sampah, memang masih menjadi magnet pariwisata. Bangunan-bangunan lama dan bersejarah dengan gaya arsitektur Belanda masih berdiri megah dan tertata baik, demikian juga kawasan paru-paru kota yang digunakan sebagai tempat rekreasi masyarakat, seperti Taman Ganesha dan Babakan Siliwangi.
Maraknya bisnis factory outlet (FO), clothing company (CO), dan distribution store (Distro), melengkapi kebutuhan belanja wisatawan. Ramainya kawasan perbelanjaan Cihampelas, Cibaduyut, Cigondewah, dan Jalan Braga telah mendongkrak tumbuhnya sektor pelayanan jasa, salah satunya kuliner.

Pada 2012, 69 persen Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung berasal dari penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah, yakni hotel, resto, dan lain-lain. Masyarakat Bandung pun membanggakan kotanya sebagai Kota Belanja (16,6 persen) dan Kota Kuliner (12,21 persen), seperti rilis yang diterima Okezone, Kamis (31/1/2013).

Meski demikian, Kota Bandung juga banjir pujian. Pada 2007, British Council menetapkannya sebagai Proyek Percontohan Kota Terkreatif se-Asia Timur. Pada 2010, Indonesia Tourism Award menyatakan Bandung sebagai The Most Favorite City and The Best Service. Terakhir, pada 2012, survei media di Singapura, Channel News Asia, menempatkan Bandung dalam posisi lima besar Kota Kreatif se-Asia.

Kreativitas seni dan budaya di Bandung memang patut menjadi kebanggaan tersendiri. Banyak prestasi dan hasil karya seni yang menyumbang perkembangan budaya bangsa. Berdasarkan poling, 11,4 persen masyarakat bangga dengan Bandung sebagai Kota Musik/budaya. Festival seni dan kreativitas yang sering digelar di kota ini adalah daya tarik bagi anak-anak muda sebagai ajang berkreasi dan berkompetisi.

Dalam setahun terakhir ini, 46,9 persen warga Kota Bandung tidak puas dengan kemajuan yang terjadi di kotanya. Angka yang begitu tinggi jika dibandingkan dengan tingkat kepuasan masyarakat yang hanya mencapai 9,1 persen. Wujud kekecewaan ini juga tergambar di situs-situs pencarian berita atau sosial media, keluhan-keluhan terhadap Kota Bandung justru lebih banyak diutarakan oleh warganya sendiri ketimbang wisatawan domestik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar